Rabu, 20 Juli 2011

CATATAN SEORANG MAHASISWA “Tunas Keimanan”


Bismillahirrahmanirrahim…
Ketika aku menuliskan artikel ini, sejujurnya aku sedang sibuk berkutat dengan proposal ku yang belum kunjung terselesaikan. Iseng-iseng ingin update status di FB tapi g’ ada ide. Ya sudah daripada nulis status yang gaje dan g’ bermanfaat, lebih baik aku rehat sejenak sambil intermezo dari proposal yang memusingkan ini. Berlalu kembali menjelajahi masa lalu.
Jadi teringat ketika aku masih duduk di bangku 3 SMA.  Alhamdulillah, ketika itu Aku mulai menyadari akan hidayah Allah yang sedang banyak berseliweran di depan aku. Sebetulnya hidayah itu banyak di sekitar kita, tinggal kita saja yang mau atau tidak mengambil setiap hidayah yang datang. Hidayah tidak hanya berbentuk gejolak hati, tetapi hidayah juga bisa berbentuk dalam peristiwa yang di dalamnya terkandung berjuta hikmah. Al-qur’an juga merupakan sebuah hidayah. Tinggal kita saja lagi yang mau atau tidak menerjemahkannya. Jadi, salah besar kalau seseorang ingin insaf atau ingin berbuat baik harus menungguh datangnya hidayah?? Hidayah sudah datang mas,mba, tinggal kitanya saja mau atau tidak mencarinya dan memahaminya. (nah biasanya nih para perempuan yang mau memakai kerudung atau jilbab, pasti berkata seperti ini “aku udah ada niat sih, tapi nunggu hidayah dulu buat berkerudung,,” wadooh.. hidayahnya sudah ada, g’ usah ditunggu-tunggu, hidayahnya berupa Ayat Al-qur’an surah An-Nur ayar 31 dan Al-Ahzab ayat 59,, jadi masih beralasan nunggu hidayah lagi mba?? Duuh… cape deh,, yang jadi permasalahannya adalah kapan kamu mau mengambil hidayah itu??)
Ok, kita tinggalkan tentang hidayah dan kembali kepada masa aku kelas 3 SMA. Nah ketika itu aku mulai meneguhkan diri untuk lebih mengenal agama aku yang hampir 17 tahun menjadi identitas aku. Kalau banyak remaja seusia ku ketika umur mereka sudah 17 tahun  mereka ingin punya sim mobil, ingin punya pacar, ingin nikah (ini memangnya ada??), ingin tampil dewasa dengan busana yang lebih terbuka dan lain-lainnya. Tetapi entah kenapa aku tak begitu tertarik dengan kehidupan sweet seventeen yang glamor seperti kebanyakan remaja seusia itu. Sejujurnya ketika itu aku sedang berada pada masa kritis identitas diri, degradasi jati diri. Dimana aku malah tak tau tujuan hidup ku, dan aku malah memepertanyakan kenapa aku dilahirkan ke dunia  jika aku akan berbuat salah dan dosa, mending g’ usah dilahirin dan aku juga tak minta dilahirin, dan ketika aku tak tahu yang mana yang absolute benar dan yang mana absolute salah serta seabrek pertanyaan konyol dan bodoh lainnya, pokoknya krisis jati diri deh. entah saat kekacauan pikiran seperti itu aku dapat memahami kenapa hal ini dapat terjadi. Dan tahukah kalian kenapa hal ini dapat terjadi dalam hidup ku dan mungkin hidup teman-teman sekalian yang pernah mengalami krisis jati diri?? Ya, Karena Jauh dari Allah… gelisah, sesak, tanpa arah dan kian parah, karena kita jauh dari Allah.. sebenarnya waktu itu apa sih yang tidak aku dapatkan?? Uang?? Keluarga ku tergolong mampu dan berkecukupan. Prestasi?? Setidaknya  ranking ku 10 besar dan aku juga menjadi juara dalam ajang  yang bergengsi. Teman?? Semua teman di kelas adalah temanku dan kami juga kompak. Pujian?? Enatah berapa kali aku dipuji oleh guru-guru ku. Pacar?? Heh.. setidaknya ada (dulu), dan tak sedikit lelaki yang juga “naksir aku” (narsisan dikit, tapi ini bener lho), tapi semua itu, masih ada saja dalam hidupku yang kurang. Seperti ada sebuah lubang besar yang tak bisa di penuhi meski dengan semua hal diatas.
Baru ku sadari ternyata aku jauh dari Tuhan ketika semua krisis itu menyerang diriku. Dan aku sangat bersyukur, karena hanya sedikit orang yang dapat mengambil hidayah di saat-saat kritis seperti ini. Saat itu hanya ada 2 pilihan dalam diriku untuk menyelesaikan dilema ini. 1. Kembali kepada Allah dengan mengkaji islam, 2. Tetap seperti ini dengan semakin masuk ke lubang maksiat untuk memenuhi rasa “kurang” itu??. Tak sedikit remaja seusiaku yang memilih jalan ke 2 dan bahkan bunuh diri sangking g’ tahan lagi menerima kenyataan bahwa dirinya sedang jauh dari Allah. Dan Alhamdulillah, Allah condonngkan hati ku pada pilihan 1. Memang Allah-lah pemilik hati ini, siapa yang dapat membolak-bolakan hati selain Allah?? ( Ya Allah Jangan condongkanlah hati kami ke arah kesesatan setelah datang petunjuk-Mu kepada kami.. Aamiin). Awalnya memang merasa was-was, takut dikatakan tobat sambal lah, sok alim lah, ini-lah, itu-lah,, tenang itu normal kok, karena was-was itu datangnya dari setan dan setan tak mau tinggal diam melihat kita menuju jalan yang benar sehingg ia pun harus menggoyahkan pendirian kita (apabila ada teman yang ngerasa seperti itu, maka luruskan niat karena Allah Ta’ala dan terus maju, cuek az dengan godaan-godan setan).  Sejak itu aku ingin lebih mengenal Allah, karena gimana mau dekat kalau tak kenal, dan mana bisa kenal kalo g’ mengkaji islam…
Beberapa Bulan berlalu, Alhamdulillah Tunas keimanan pun muncul, dan entah bisikan apa atau karena kecongkakan ku kah?. ketika itu Alhamdulillah, aku mulai membaca Al-qur’an dan terjemahannya secara rutin. Timbulah sebuah decakan dalam hati, “hmm kok kenapa ya juz 1-10 yang dibahas kebanyakan kisah-kisah nabi terdahulu dalam pencapaian keimanan, mana ayat-ayat sains-nya?? Padahalkan Alhamdulillah keimanan ku sudah mulai “gede lah” kalau diibaratkan bangunan jadi insya Allah yang namanya pelajaran tauhid dan keimanan aku kan sudah tahu mulai SD sampai sekarang.  (Astaghfirullahaladzim,, memang ketika itu aku adalah orang yang sangat menyukai sains sehingga terpikirlah seperti itu.) Memang, Kata Allah dalam Firman-Nya, belum dikatakan seseorang itu beriman kalau belum Allah uji. Dan itulah terjadi padaku saat itu… jreeeeng,,, UJIAN IMAN….
Tak lama setelah hatiku berguman seperti itu (padahal dalam hati lho?? Memang apa sih yang g’ diketahui Allah?? Hal seperti itu bukan hal yang mustahil bagi Allah). Datanglah pesan di Inbox FB ku. Isinya bahwa, “teman hati-hati,, ini ada situs yang sangat berbahaya bagi umat islam,, apalagi bagi orang awam.. hal ini bisa merugikan,, ini linknya (sambil menampilkan beberapa web yang dimaksud). Yah.. yang namanya manusia, bila dilarang malah dikerjakan, yang disuruh malah ditinggalkan, jadilah aku buka link itu (lagipula aku merasa aku bukan orang awam sih,, hedeeeh).
Satu,, dua, tiga paragraph aku baca dari beberapa artikel itu dan DUUUUUUAAAAR… Bagai di sambar Bom Atom hiroshima, dulu “iman ku” yang ku katakan bagai bagunan yang gede itu hancur berkeping-keping. Hanya tersisa pondasi yang amat rapuh. Setelah ku membaca artikel “Fitnah” itu, aku malah merasa apakah islam yang ku anut ini emang benar,, sampai-sampai aku mempertanyakan keimananku tentang islam. Lalu terdengarlah suara gumaman hati “hen.. ayo de,, mana katamu keimanan mu yang kaya bangunan gede itu?? Cuma diserang satu, dua artikel saja iman mu sudah jeblok,, nah jadinya iman mu sedang diuji,, hahahahah… eitz.. pokonya gimanapun caranya kamu harus tetap islam, meski imanmu hanya sebesar biji sawi…” mulai malam itu akupun ketakutan jika aku harus meninggal dalam kekafiran karena telah goyahlah keimanan ku, dan mulai saat itu akupun mulai menyusun puing-puing keimanan ku dengan mengkaji islam secara utuh hingga sekarang… Alhamdulillah… ^^
Intinya,, jangan mudah merasa dan tertipu dengan apa yang ada dalam kepalamu,, seorang ahli ibadah saja ada yang tertipu dengan amal kebajikannya,, ia merasa kalau amal ibadahnya sudah diterima Allah dan iapun enggan tuk meminta pengampunan dosa kepada Allah, akhirnya apa?? Ia ditipu oleh amal kebajikannya,, saat di yaumul mizan amal ibadahnya tak bernilai lagi karena amalnya dibumbui dengan riya, ia menganggap dirinya ahli ibadah sehingga ia congkak dan sombong, dan segelintir tipu daya setan dengan dibungkus amal ibadahnya,, jadilah ia kini menjadi orang yang merugi, begitu juga dengan kisah ku tadi (ini beneran kisah ku lho,, bukan rekayasa genetika). Ketika kita mudah tertipu dengan keimanan kita yang mulai tumbuh bersemi, tapi tak kita barangi dengan ilmu yang menunjang batang keimanan kita (ah,, akukan sudah berkerudung,, g’ usah lah lagi mengkaji soal tatacara berhijab,, atau ah pelajaran dasar membaca huruf hijaiyah sih?? Padahalkan ini sudah dipelajari saat TPA,, kenapa g’ langsung ke pelajaran tajwid sih??. Padahal belum tentu lho kerudung yang kita pakai masuk dalam standard syariah, padahal belum tentu lo huruf hijaiyah yang kita bunyikan sesuai dengan makhrajnya.) maka sama saja kamu membesarkan iman yang rapuh karena tak ditopang oleh ilmu, jadi,, puaskah kamu dengan ilmu sekarang dengan berkata “Imanku kuat az kok”, “ilmu yang ini sudah aku pelajari kok”. “aturan ini kan sudah ku kerjakan, jadi g’ perlu lagi belajar ilmu dasarnya??”. Jadi,, masihkah kamu merasa cukup dengan semua yang ada di kepalamu sehingga membuatmu malas untuk mengkaji ilmu agama yang lebih mendalam??
Sttt,, sebenarnya ini bukan rahasia publik lagi lho,, jujur ada ribuan umat islam setiap harinya murtad di seluruh dunia gara-gara bujuk rayu kaum misionaris. Taukah kamu kaum misionaris tak akan pernah berhenti sebelum kita (umat islam) mengikuti mereka. Mereka bukan kaum yang mudah putus asa dalam memurtadkan kita… tanpa topangan ilmu kita dengan mudah terhisap bujuk rayunya, atau minimal kita mengikuti gaya maksiat mereka lah…
OK,, JADI,, MASIHKAH ANDA MALAS UNTUK MENGKAJI ILMU AGAMA UNTUK MEMPERKUAT IMAN ANAD?? KALAU ANDA MALAS, BERARTI ANDA TELAH MERASA BAHWA ILMU ANDA SEKARANG INI TELAH CUKUP UNTUK MENOPANG KEIMANAN ANDA, DAN ANDA MERASA KEIMANAN ANDA SEKARANG SUDAH CUKUP KUAT UNTUK BISA DIUJI DAN DIPERTANGGUNGJAWABKAN.. MAKA ANDA JIKA ANDA BERFIKIR SEPERTI ITU MAKA ANDA SUDAH TERTIPU OLEH PENGETAHUAN ANDA YANG PICIK… JANGAN SAMPAI PARA MISIONARIS YANG BERKELIARAN DALAM BERBAGAI DIMENSI KEHIDUPAN DAPAT MENJEBOL  KEIMANAN MU WAHAI TEMAN…

SALAM UKHUWAH….
Kandangan, 19 Juli 2011, 11:26




NB: Hak cipta dan Hak milik hanya milik Allah Subhanahu wa ta'ala,, namun... ada baiknya jika di copas menyertakan link blog ini... sangpendambasurga@blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar